Syair Syahdu I’tiraf

Ilahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi
Dzunubi mitslu a’daadir- rimali, fahabli taubatan ya Dzal Jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali
Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak, muqirran bi dzunubi wa qad di’aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaaka

Ya Allah …tidak layak hambaMu ini masuk ke dalam surga-Mu

tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu

Maka kami mohon tobat dan mohon ampun atas dosaku

sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa

Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai

maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan

Dan umur hamba berkurang setiap hari,

sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Syair syahdu "I'tiraf" di atas telah lama dikenal, dan di Indonesia biasa disenandungkan oleh Haddad Alwi dan Sulis.
Tak terasa, butiran-butiran air mataku menetes tatkala membaca ataupun mendengar syair tersebut. Syair di atas merupakan sebuah "Pengakuan" dari seorang hambaMu. Syair tersebut sebagai cambuk pengingat dan renungan tentang dosa-dosa manusia.
Sebagai hamba Allah, diriku sungguh merasa belum bisa melaksanakan semua perintah-Nya dengan sempurna, terkadang tak terasa diriku telah lalai. Masih harus terus belajar bersabar dan beristiqomah. Mudah-mudahan kita sebagai hamba-Nya selalu ingat akan perintah dan larangan-Nya serta mengharap ridho dari-Nya dengan penuh keikhlasan. Amiin... Betapa damainya hidup ini jika kita sebagai umat Islam bisa bersatu dan tak ada rasa dengki, kita semua adalah sama dihadapan-Nya.
Barakallah...
Jazakumullahu khoiron katsiro... Amiin...

Senyum Itu Indah



Saat itu pada hari Senin tangal 11 Februari 2013 jam analog di BlackBerryku menunjukkan pukul 19.47 WIB. Jemariku baru saja selesai mengetikkan sebuah statusku pada BBM “seindah-indahnya senyum adalah senyum yang menembus cucuran air mata”. Tiba-tiba BlackBerryku berdering dan sebuah BBM masuk dari seorang sahabatku yang cantik dan sangat smart, profesi beliau adalah seorang dokter di salah satu klinik terkenal di kota Gresik telah membuat hati ini terasa sejuk.

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
"kesedihan itu tak kan abadi”
“La Tahzan...”
“Tak usah bersedih, pasti ada hikmahnya...”
Itu antara untaian kata-kata yang lahir dari hati maupun bibir untuk membujuk hati yang sedang kesedihan. Karena apa kita sedih? Gagal dalam pelajaran? Dikhianati kawan? Putus cinta? Disisih sahabat? Dibuang keluarga? Kehilangan insan tersayang? Dan sebagainya. Itu lumrah dalam satu kehidupan. Itu lumrah dalam satu perasaan. Lawan sedih itu bahagia. Itulah roda kehidupan, kadang-kadang bahagia terasa, sedih menyapa, namun kedua-duanya punya air mata. Bagaimana untuk bahagia? Maka tersenyumlah!

Senyum itu boleh jadi ridho, senyum itu jusa satu pemberian, senyum itu tanda bahagia, senyum juga satu sedekah.

Maka tersenyumlah wahai diri. Meniti kehidupan ini, ada pasang surutnya, ada naik turunya, ada suka dukanya. Apa yang diberi-Nya itulah yang terbaik untukmu. Apa yang kau dapat itulah yang sebenarnya kau perlukan. Apa yang kau miliki, hargai dan syukurilah. DIA yang menatap lembut dirimu maka DIA yang tahu apa yang terbaik untukmu.

Maka tersenyumlah diri.
Sebagai manusia, kau hanya merancang. Yang menentukan Yang Maha Esa. DIA lah sebaik-baik perancang. Rencana-Nya itu pasti sesuai dengan kehendakmu karena DIA tahu kemampuan dan keperluanmu.  Ilmu-Nya itu luas dibandingkan dengan ilmumu. Ilmu-Nya itu tak terjangkau oleh pemikiran manusia. Sesungguhnya DIA yang Maha Mengetahui.

Maka tersenyumlah diri. Ujian apapun yang menimpamu itu tanda sayang-Nya. Maka jadikanlah ujian itu untuk menambah cintamu juga kepada-Nya. Bersabar dengan segala yang mengujimu. Itu semua adalah tanda kasih dan perhatian-Nya padamu.  Ingatlah bahwa ada lagi yang lebih sengsara, derita dan berduka darimu. DIA takkan mengujimu sesuai dengan kesanggupanmu. Bersyukurlah.

Maka tersenyumlah diri. Meski selalu rapuh dalam langkah, dan kadang tak setia pada-Nya, tapi bergantunglah selalu pada-Nya.

Sungguh luar biasa bahasa yang dituliskan, kalimatnya tertata rapi dan sangat menyejukkan qolbu tatkala membacanya. Sang dokter tahu jika diriku saat menuliskan sebuah status di BBM hatiku sebenarnya sedang rapuh tapi tetap tersenyum dihadapan siapapun. Ternyata sangatlah tidak rugi jika kita selalu tersenyum, tertawa dan bercanda, meskipun kadang-kadang ada saja yang memberikan komentar pada senyuman kita. Ada yang menganggap kita orang yang tak peduli dengan lingkungan; saat sedih, gembira, suka, duka kita selalu tersenyum. Tapi biarlah mereka berkata seperti itu, dan tetaplah tersenyum. Asal jangan senyum-senyum sendiri yaaa... Hehehe... Always keep smile!!! Senyum itu sangatlah indah.

Coretanku Kata Hatiku

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Di pagi nan cerah di salah satu sudut ruangan rumah, duduk disebuah kursi menghadap meja kerja, ditemani oleh angin sepoi-sepoi yang menerobos masuk melalui lubang-lubang kecil daun jendela, saya mencoba menorehkan coretan hati yang pertama kali pada sebuah blog baru melalui lentikan jari-jemari yang menombol tuts-tuts pada sebuah keyboard laptop sederhana berwarna hitam dengan sebuah mouse berbentuk sebuah sedan merah dengan lampu LED berwarna biru yang beralaskan sebuah mouse pad bergambar kantun tiger nan lucu dan imut.

Blog baru ini nanti insyaAllah akan berisi tentang segala sesuatu yang ada di dalam hati saya, yang akan saya coretkan di atasnya. Mulai dari ungkapan hati, pengalaman pribadi, khayalan, kegiatan-kegiatan yang pernah saya lakukan, kegemaran, referensi buku, dan lain-lain yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Daripada melamun, jenuh dan chaos karena aktivitas sehari-hari, saya akan berusaha mencairkan pikiran, mengendorkan urat-urat syaraf, melemaskan otot-otot jiwa dan raga dengan mengungkapkan kata hati. Betapa indahnya jika kita saling berbagi, meskipun hanya melalui sebuah torehan dan coretan-coretan. Coretanku Kata Hatiku.
No one is too old to learn, he who sows will reap.

Jazakumullahu khoiron katsiro.
Wassalam