Syair Syahdu I’tiraf

Ilahi lastu lilfirdausi ahla, walaa aqwa ‘ala naaril jahiimi
Fahabli taubatan waghfir dzunubi, fainaka ghafirudz- dzanbil ‘adzimi
Dzunubi mitslu a’daadir- rimali, fahabli taubatan ya Dzal Jalaali
Wa ‘umri naqishu fi kulli yaumi, wa dzanbi zaaidun kaifa –htimali
Ilahi ‘abdukal ‘aashi ataak, muqirran bi dzunubi wa qad di’aaka
fain taghfir fa anta lidzaka ahlun, wain tadrud faman narju siwaaka

Ya Allah …tidak layak hambaMu ini masuk ke dalam surga-Mu

tetapi hamba tiada kuat menerima siksa neraka-Mu

Maka kami mohon tobat dan mohon ampun atas dosaku

sesungguhnya Engkau Maha Pengampun atas dosa-dosa

Dosa-dosaku seperti butiran pasir di pantai

maka anegerahilah hamba taubat, wahai Yang Memiliki Keagungan

Dan umur hamba berkurang setiap hari,

sementara dosa-dosa hamba selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Syair syahdu "I'tiraf" di atas telah lama dikenal, dan di Indonesia biasa disenandungkan oleh Haddad Alwi dan Sulis.
Tak terasa, butiran-butiran air mataku menetes tatkala membaca ataupun mendengar syair tersebut. Syair di atas merupakan sebuah "Pengakuan" dari seorang hambaMu. Syair tersebut sebagai cambuk pengingat dan renungan tentang dosa-dosa manusia.
Sebagai hamba Allah, diriku sungguh merasa belum bisa melaksanakan semua perintah-Nya dengan sempurna, terkadang tak terasa diriku telah lalai. Masih harus terus belajar bersabar dan beristiqomah. Mudah-mudahan kita sebagai hamba-Nya selalu ingat akan perintah dan larangan-Nya serta mengharap ridho dari-Nya dengan penuh keikhlasan. Amiin... Betapa damainya hidup ini jika kita sebagai umat Islam bisa bersatu dan tak ada rasa dengki, kita semua adalah sama dihadapan-Nya.
Barakallah...
Jazakumullahu khoiron katsiro... Amiin...

0 Responses